Menu

Ashitaba: Dia Malaikat Penyembuh

Minggu, Agustus 23rd 2015.

pohon-ashitaba

Hanya dalam hitungan hari, daun ashitaba alias esok hari enyahkan derita radang hati dan beragam penyakit.

Meski tidur semalam, ketika bangun Mohamad Aprilsan merasa tidak bugar. Pandangannya berkunang-kunang. Begitu hendak bangkit dari peraduan, kepalanya terasa berputar. Dengan susah payah ia memaksakan diri berjalan menuju kamar mandi.

Beberapa hari berselang ketika pulang bekerja, pusing dan mual berat menyerang bersamaan. Ia segera meluncur ke sebuah rumahsakit di Kota Surabaya, Jawa Timur. Dokter mendiagnosis mengidap radang hati akibat serangan virus hepatitis B. Ia harus pasrah untuk dirawat di rumahsakit.

Kerusakan hati

Pengujian klinis menunjukkan kadar SGOT dan SGPT Aprilsan masing-masing di angka 600 U/l dan 800 U/l. Menurut Dr dr H Arijanto Jonosewojo SpPD, angka normal SGOT/SGPT untuk laki-laki masing-masing berkisar 10—38 U/l dan 10—41 U/l. Namun, dalam kondisi kecapaian, kurang beristirahat, atau baru pulih dari penyakit berat, nilai SGOT/SGPT bisa melonjak hingga lebih dari 3 kali di atas normal dan masih dianggap aman.

Menurut Ahmad Zain, herbalis di Sidoarjo, Jawa Timur, pemicu kerusakan hati utamanya kelelahan dalam jangka panjang, kurang istirahat, atau kekurangan konsumsi glukosa. Dalam jangka panjang, kekurangan glukosa merusak fungsi hati.

Aprilsan memang kerap memaksakan diri beraktivitas meski kelelahan mendera. Jabatan kepala urusan proyek memaksanya harus sering bepergian. Ia juga kerap terlambat makan.

Pada 10 Agustus 2013, Aprilsan diizinkan pulang untuk berlebaran dengan keluarga. Selang 6 hari, ia mengunjungi Ahmad Zain. Zain pun memberikan minuman berbahan campuran daun kering ashitaba dan getah ashitaba Angelica keiskei dan 5 kapsul berisi campuran daun kering ashitaba, jamur lingzhi, dan daun sukun.

Ahmad Zain menganjurkan Aprilsan untuk kembali esok hari bila merasakan perubahan. Ternyata, dalam perjalanan dari Sidoarjo ke Surabaya Aprilsan merasakan perbedaan. Biasanya ia pusing ketika terguncang dalam kendaraan. Namun, perjalanan pulang dari tempat Ahmad Zain ia lalui nyaris tanpa gangguan. Esoknya ia pun kembali berkunjung ke tempat praktik Zain. Herbalis itu kembali memberikan 5 kapsul yang ia konsumsi sekaligus.

“Malamnya saya tidur sangat nyenyak seperti tidak tidur seminggu,” kata Aprilsan.  Hari berikutnya, ia merasakan perubahan luar biasa ketika bangun tidur: tidak ada lagi rasa mual, pusing, atau pandangan berkunang-kunang. Hari itu juga ia menghentikan konsumsi obat dokter. Selang 2 pekan, tepatnya pada 29 Agustus 2013, Aprilsan berkonsultasi ke rumahsakit sembari menjalani pengujian laboratorium. Hasilnya mengejutkan: angka SGOT/SGPT masing-masing menjadi 59 U/l dan 62 U/l. “Saat itu dokter masih menyarankan istirahat total, tetapi saya menolak. Soalnya sejak saya di rumahsakit, pekerjaan benar-benar terbengkalai,” kata Aprilsan.

Berbagai penyakit

Menurut Ahmad Zain, ashitaba memperbaiki fungsi hati dengan mempercepat regenerasi sel-sel yang rusak. Pernyataan itu sejalan riset Sang Hoon Choi dan Kwan Ha Park dari Jurusan Obat Akuatik Universitas Kunsan, Korea Selatan, pada 2011. Sang dan Kwan memberikan galaktosamin dan kloroform yang menyebabkan kerusakan hati pada mencit, lalu memberikan ekstrak metanol. Sebelumnya, mereka memberikan ashitaba dengan 2 dosis berbeda: 200 mg dan 500 mg per kg bobot tubuh.

Ternyata, tikus yang diberi 500 mg ashitaba per kg bobot tubuh tidak menunjukkan kerusakan hati. Dalam laporannya, Sang dan Kwan menyatakan bahwa ekstrak ashitaba menurunkan kadar trigliserida darah dan meningkatkan kadar HDL (high density lipoprotein) alias kolesterol baik lantaran kandungan berbagai jenis flavonoid. Sementara riset Ohnogi H dan rekan di Jurusan Gastroenterologi dan Hepatologi Molekuler, Universitas Kyoto, Jepang, menemukan senyawa calkon—jenis senyawa karbon yang lazim dijumpai di tubuh makhluk hidup—yang mampu melindungi sistem metabolisme tubuh dengan mengaktifkan pembentukan protein adiponektin dalam ashitaba.

Protein adiponektin adalah protein vital yang mengendalikan pembentukan berbagai jenis hormon dan enzim penting untuk kehidupan. Protein itu juga mencegah terjadinya berbagai masalah kesehatan, mulai dari obesitas, diabetes, aterosklerosis, sampai kerusakan hati. Saat tubuh sakit, kemampuan membentuk protein adiponektin  berkurang sehingga laju metabolisme melambat.  Asupan ashitaba memperbaiki kemampuan pembentukan adiponektin, yang ujung-ujungnya mengembalikan kecepatan metabolisme pada tingkat normal dan mencegah terjadinya kerusakan organ tubuh vital.

Mohamad Aprilsan tidak sendirian menikmati khasiat ashitaba. Di Jakarta Barat, Adrianna Bakri Gazali yang 18 tahun terakhir menggantungkan hidup pada suntikan insulin membuktikan hal serupa. Adrianna menderita sakit gula alias diabetes mellitus sejak 1990. Pada Juni 2013 lalu, kadar gula darah Adrianna mencapai 325 mg per dl; normal, kurang dari 100 mg per dl. Ia lantas menemui Ning Harmanto, herbalis di Jakarta Utara, yang membuatkan ramuan dengan bahan utama ekstrak daun ashitaba. Setelah mengonsumsi racikan itu selama 2 minggu, kadar gua darah Adrianna turun menjadi 205 mg per dl.

Dwi Ranny Pertiwi Zarman, pengusaha di Bekasi, Jawa Barat, juga membuktikan khasiat kerabat aster itu. Dalam dinding rahim perempuan kelahiran Bandung itu  tumbuh mioma sepanjang 3,4 cm. Setiap 15 menit ia berkemih sehingga nyaris tidak bisa tidur. Siklus menstruasi pun kacau. Pada Maret 2013, ia mengonsumsi 4 kapsul berisi campuran beragam herbal antara lain rajangan kering daun ashitaba dan rimpang temumangga setiap hari. Pada bulan ketiga konsumsi, siklus datang bulannya lancar kembali. Saat memeriksakan diri di sebuah rumahsakit di Kota Bekasi, mioma di rahimnya mengecil, menjadi  2,8 cm.

Di Surabaya juga ada Wisnu Wardhana dan Agus Irawan yang terbebas dari derita asam urat, dan kolesterol tinggi. Wisnu bahkan telah bolak-balik ke dokter hingga 15 kali tanpa merasakan perubahan berarti. Sementara Didik Waluyo yang menderita hemoroid alias ambeien sempat menerima vonis operasi dari dokter spesialis penyakit dalam. Namun, trauma operasi membuat Didik mencoba terapi herbal menggunakan paduan ashitaba, daun pegagan, dan daun wungu. Ternyata paduan itu ampuh meredakan derita ambeien Didik tanpa harus operasi. Kehidupan seorang penderita jantung koroner di Yogyakarta dan penderita fistula ani di Jakarta pun kembali normal pascakonsumsi teratur kapsul ashitaba.

 

Tren

Ashitaba memang bukan herbal asli Indonesia. Tanaman kerabat seledri itu pendatang dari Jepang. Keduanya—antara ashitaba dan seledri—memang berkerabat, sama-sama anggota famili Apiace. Itulah sebabnya ashitaba Angelica keizkei juga sohor sebagai seledri Jepang.  Nama genus tanaman itu diambil dari bahasa Latin yang berarti malaikat—merujuk pada khasiat ashitaba yang panasea alias menyembuhkan beragam penyakit.

Sebutan malaikat juga mengacu pada beragam bagian tanaman, daun, batang, getah, dan akar manjur mengatasi aneka gangguan kesehatan. Menurut peneliti di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Dr Nurliani Bermawie, getah ashitaba mengandung xantangelol dan hidroksiderisin—keduanya antioksidan. Pantas penduduk Pulau Izu yang rutin mengonsumsi ashitaba itu rata-rata berumur panjang hingga 90-an tahun. Petani memanen daun ashitaba dengan memotong ujung batang.

Nah, bekas potongan itu mengeluarkan getah kekuningan. Dari 50 anggota genus Angelica, ashitaba satu-satunya yang bergetah kuning. Batang yang hari ini mengeluarkan getah, esok akan kembali bergetah ketika kita mengiris ulang dengan jarak 5 cm begitu seterusnya hingga batang itu habis. Dalam sebuah pengirisan, petani memperoleh 0,01 cc. Sementara itu pertumbuhan daun sangat cepat, hari ini panen daun, esok muncul tunas baru. Itulah sebabnya ia sohor sebagai tomorrow’s leaf.

Tanaman obat itu tiba di tanahair pada 2001 ketika beberapa peneliti Jepang membawa tomorrow leaf alias daun esok hari itu ke Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Kedatangan mereka bertujuan mencari lahan dan petani yang berminat menanam ashitaba. Selang 3 tahun, tepatnya pada 2004, sebuah perusahaan patungan Indonesia-Jepang memprakarsai penanaman ashitaba di Trawas. Selanjutnya, selama 2 tahun berjalan, perusahaan itu menjadi pembeli tunggal semua daun hasil penanaman masyarakat.

Namun, sejak 2007, pembelian mulai seret. “Masyarakat pun kelimpungan mencari pembeli,” kata Iwan Setyabudi, petani, pengolah ashitaba, sekaligus pemilik CV Ashitaba Trawas Industry. Mereka pun berusaha memperkenalkan khasiat seledri jepang itu kepada masyarakat sekaligus berusaha membuka pasar ekspor ke pembeli lain. Luas penanaman pun mencapai 15 ha yang merupakan lahan milik 36 petani. Kini mereka bemitra dengan 8 petani di Mataram, Nusa Tenggara Barat, untuk memenuhi permintaan.

Dari kedua tempat itu, kini penanaman meluas hingga Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Jawa Barat. Setiap bulan, Iwan mengantungi laba bersih sekitar Rp7-juta. Maklum, ia mengirim ke berbagai negara seperti Singapura, Filipina, Korea, Pakistan, sampai Inggris. Produsen herbal tanahair, pun mulai memanfaatkan ashitaba. Di antaranya PT Mahkotadewa Indonesia di Jakarta Utara dan CV Vermindo Internasional di Bekasi. Wajar kalau di dalam negeri Iwan mempunyai pembeli tetap di berbagai kota.

Bagian tanaman tomorrow’s leaf yang paling sering dimanfaatkan adalah daun, batang, dan getah. Dalam sebulan, perusahaan milik Iwan yang berdiri pada 2011 itu memproduksi 35 ton daun kering dan 7.500 l getah. Menurut Ning Harmanto, masyarakat Jepang—tempat ashitaba berasal—menjuluki raja sayuran lantaran khasiat yang beragam. Namun, pengalaman Ning menunjukkan efek ashitaba paling ampuh adalah menurunkan kadar gula darah.

Ning mewanti-wanti agar konsumen mengonsumsi sesuai dosis. “Apalagi kalau bahannya berbentuk ekstrak,” kata Ning. Maklum, segram ekstrak berasal dari 10 gram daun segar. Sebutir kapsul berisi 15 gram ekstrak setara 150 gram daun segar. Itu setara dengan konsumsi sayuran dalam sekali makan. Jika dosis tepat, daun esok hari akan membuat konsumennya menatap hari esok dengan tubuh bugar. Dia memang malaikat penyembuh. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Bondan Setyawan, Kartika Restu Susilo, dan Muhamad Cahadiyat Kurniawan)

Pencarian Masuk:

Produk terbaru

Rp 65.000 100.000
Order Sekarang » SMS : 081901389456
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangCream Penumbuh Rambut jenggot dan kumis – Cream Macho
Harga Rp 65.000 100.000
Anda HematRp 35.000 (35.00%)
Lihat Detail
Rp 50.000 150.000
Order Sekarang » SMS : 081901389456
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangManjakani 7 in 1 Sejak 1996 atasi berbagai masalah kewanitaan
Harga Rp 50.000 150.000
Anda HematRp 100.000 (66.67%)
Lihat Detail
Rp 15.000 25.000
Order Sekarang » SMS : 081901389456
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangSabun Zaitun Olive Oil Fayolla
Harga Rp 15.000 25.000
Anda HematRp 10.000 (40.00%)
Lihat Detail
Rp 15.000 25.000
Order Sekarang » SMS : 081901389456
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangSabun Sereh Plus Sulfur Fayolla
Harga Rp 15.000 25.000
Anda HematRp 10.000 (40.00%)
Lihat Detail
Rp 15.000 25.000
Order Sekarang » SMS : 081901389456
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangSabun Beras Fayolla – Rice Soap Body Soap
Harga Rp 15.000 25.000
Anda HematRp 10.000 (40.00%)
Lihat Detail
Rp 15.000 25.000
Order Sekarang » SMS : 081901389456
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangSabun Susu Kambing Fayolla
Harga Rp 15.000 25.000
Anda HematRp 10.000 (40.00%)
Lihat Detail
Rp 100.000 150.000
Order Sekarang » SMS : 081901389456
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangKapsul Extrack Bawang Hitam Garlicmaxs
Harga Rp 100.000 150.000
Anda HematRp 50.000 (33.33%)
Lihat Detail
Rp 80.000 100.000
Order Sekarang » SMS : 081901389456
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangMadu Pasak Bumi Plus Tribulus
Harga Rp 80.000 100.000
Anda HematRp 20.000 (20.00%)
Lihat Detail